Article Index

4.2. Niatnya baik dan benar, akan tetapi menimbulkan kemudlaratan bagi orang lain ( tidak sengaja)

Bisa terjadi dalam berbagai bentuk, di antaranya:

4.2.1    Menggunakan sesuatu milik sendiri, namun menimbulkan mudlarat bagi orang lain. Ini terjadi dalam dua bentuk:
Menggunakannya dalam bentuk yang tidak lazim, ini jelas tidak boleh. Misalnya seseorang mengobarkan api di tanahnya sendiri, pada musim kemarau dan banak angin sehingga membakar semua yang ada di sekelilingnya. Orang seperti ini dianggap telah melakukan pelanggaran, dan wajib mengganti milik tetangganya yang terbakar.

 

Menggunakannya secara lazim. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Diantaranya:
a. Menggali sumur di dekat sumur tetangganya, hingga air tetangganya habis. Menurut Imam Malik dan Ahmad, orang ini harus dicegah. Jika sumur itu telah digali, maka harus ditutup. Abu Qalabah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah membuat kemudlaratan dalam menggali sumur. Yaitu seseorang menggali sumur di samping sumur tetangganya supaya air tetangganya habis.” (HR Abu Daud)
Ulama lain membolehkan penggalian sumur seperti ini.

 

Membuat jendela dan bangunan yang tinggi.

Membuat jendela atau meninggikan bangunan agar bisa melihat ruangan dalam rumah tetangganya. Atau tingginya bangunan menghalangi ventilasi dan pencahayaan rumah tetangga. Hal hal ini harus dicegah. Terutama jika maksud buruk itu jelas-jelas nyata.

 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak meninggikan bangunan hingga menghalangi ventilasi udara tetangga, kecuali atas izinnya.” (HR al-Khairaithi)
Pendapat ini dinyatakan oleh Imam Ahmad dan disepakati oleh sebagian ulama madzab Syafi’i.

Jika barang yang dimiliki memudlaratkan orang lain. Misalnya seseorang memiliki suatu benda yang mengeluarkan suatu bau yang tidak sedap sehingga mengganggu tetangganya ataupun orang lain, maka hal itu tidak dibolehkan. Sebagaimana pendapat Imam Malik dan Ahmad.

 

Mencegah hal-hal yang membahayakan dengan menerima ganti rugi.

Seseorang memiliki hak terhadap kepunyaan orang lain. Akan tetapi jika ia menggunakan hak tersebut, dapat memudlaratkan orang lain, maka ia harus merelakan haknya atau meminta ganti rugi senilai hak yang dimilikinya. Seperti memiliki satu kamar dalam rumah orang lain, kamar mandi yang dimiliki secara bersama, atau yang lain.

Samurah bin Jundub ra. menceritakan, bahwa ia memiliki satu pohon kurma di dalam kebun seorang Anshar. Laki-laki Anshar ini tinggal bersama istrinya. Setiap kali Samurah mengunjungi kurmanya, orang Anshar ini merasa terganggu. Maka ia meminta Samurah agar mau menjual kurma itu kepadanya atau menggantinya di tempat lain. Akan tetapi Samurah menolak. Kemudian lelaki Anshar itu mengadu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. menyuruh Samurah untuk menjual, atau menerima ganti, atau memberikannya kepada laki-laki Anshar tersebut. Akan tetapi Samurah tetap tidak mau. Maka beliau berkata kepada Samurah, “Kamu telah menimbulkan mudlarat bagi orang lain.” Dan berkata kepada laki-laki Anshar, “Potonglah kurma itu.” (HR Abu Dawud)

Melarang orang lain memanfaatkan hak miliknya, sehingga orang tersebut dirugikan.

Ini bisa terjadi dalam permasalahan berikut:

Melarang orang lain untuk menggunakan atau sekedar memanfaatkan barang miliknya. Jika pemanfaatan itu menimbulkan kerugian bagi orang yang mengambil manfaat, maka ia berhak melarangnya. Misalnya, seseorang yang memiliki dinding yang rapuh yang sudah tidak mampu menahan beban yang sudah ada. Maka ia berhak melarang tetangganya agar tidak meletakkan kayu atap rumah di atasnya.

Menahan air, rumput, garam dan api.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menahan kelebihan air, dengan maksud menahan rumput.” Maksudnya, ladang rumput yang tidak bisa dijangkau kecuali melewati sebuah mata air dan meminum dari air tersebut. Maka tidak mengizinkan orang lain memanfaatkan air tersebut berarti juga tidak mengizinkan orang lain memanfaatkan rumput tersebut.

Abu Dawud meriwayatkan, bahwa seorang lelaki berkata, “Ya Rasulullah, apa saja yang tidak boleh ditahan?” Beliau menjawab, “Air.” Ia bertanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Air.” Ia bertanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Garam.” Ia bertanya, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Lakukan kebaikan. Itu lebih baik bagimu.”

Abu Dawud juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang Muslim berserikat dalam tiga hal: rumput, air dan api.”
Berikut penjelasannya:

– Air.
Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat, “Tidak diperbolehkan melarang orang lain memanfaatkan kelebihan air, meskipun air itu berada di dalam tanahnya. Bukan berarti ia harus membagikannya secara Cuma-Cuma.”

Imam Ahmad berpendapat, “Harus dibagikan secara Cuma-Cuma untuk keperluan minum bagi sesama manusia, bagi binatang, dan untuk menyirami tanaman.”
Dari perkataannya, bisa dipahami bahwa diperbolehkan melarang pengambilan air manakala air tersebut dekat dengan ladang rumput, agar ladang rumput tersebut tetap hidup.

Imam Malik berpendapat, “Jika sungai atau mata air tersebut adalah hak miliknya, maka ia tidak harus membagikannya kecuali kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Jika bukan hak miliknya, maka ia harus membagikannya.”

– Rumput
Imam Syafi’i berkata, “Jika ladang rumput itu hak miliknya, maka ia boleh menahan kelebihannya. Lain lagi jika ladang rumput itu tak bertuan.”
Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad berpendapat, “Tidak boleh menahannya. Bagaimanapun kondisinya.”

– Garam
Jika berada di ladang tak bertuan, dan tidak mengeluarkan modal dalam pembuatannya, maka tidak seorangpun boleh menahannya.

– Api
Tidak boleh menahan orang lain untuk mengambil sulutan api. Sebagaimana tidak boleh melarang orang lain agar tidak tersinari oleh cahayanya, mendapatkan kehangatannya dan memasak makanan dari kelebihan yang dia butuhkan. Adapun bahan bakar, jika merupakan hak milik, maka ia boleh menahannya. Walaupun sebaiknya tidak.